Kali ini kita ngobrolin yang lumayan serius. Btw, tahun ini adalah tahun terakhir saya bisa kuliah disini. Kalau tahun depan saya belom sidang, bisa dipastikan saya harus angkat kaki dengan paksa dari sini.

Saya lulus SMA pada tahun 2002 dengan sukses dari sebuah SMA di kota kecil, Pati. SMA dimana saya bersekolah termasuk salah satu sekolah favorit di karesidenan Pati. Untuk level kabupaten, pada angkatan saya bisa dikatakan prestasinya masih belum bisa dikejar oleh sekolah lain, terutama untuk persentase kelulusan pada ujian masuk perguruan tinggi negeri. Dari sekitar 360 siswa pada angkatan saya, 280an diantaranya diterima pada berbagai perguruan tinggi negeri. Jumlah tersebut belum termasuk banyak teman saya yang diterima pada beberapa perguruan tinggi kedinasan seperti STAN, STIS, STPDN dan beberapa perguruan tinggi lain.

Seperti sudah menjadi tradisi, setelah menjalani serangkaian ujian akhir untuk menggapai kelulusan, saya mengikuti kegiatan persiapan SPMB pada sebuah bimbingan belajar yang lumayan wahid untuk ukuran saya yang bodoh ini. Betapa tidak, sedikit flashback, pada saat saya melaksanakan EBTANAS, malam hari dimana normalnya para peserta melakukan relaksasi, belajar ataupun melakukan persiapan lainnya, saya malah asyik bermain sebuah game pada komputer tua saya. Tidak mengherankan apabila kemudian hasil EBTANAS saya sangatlah pas pasan. Memang tidak ada batas minimal nilai EBTANAS, tetapi yang lumayan dikhawatirkan oleh orang orang di sekitar saya adalah beberapa jenis ujian masuk perguruan tinggi mensyaratkan adanya nilai rata - rata EBTANAS minimal untuk bisa mengikuti seleksinya.

Pada saat EBTANAS, barulah saya menyadari bahwa sebenarnya saya termasuk orang yang lumayan cerdas. Setiap hari saya selalu latihan dengan ratusan soal soal yang saya punya. Bahkan saya adalah salah satu tempat jujugan teman teman saya satu bimbingan ketika mereka mendapati satu kesulitan.

Bimbingan belajar pun terlewati dengan hasil yang lumayan untuk orang yang mendapatkan nilai hanya 3 untuk mata EBTANAS matematika. Saya pun diterima di 3 dari 4 ujian masuk perguruan tinggi yang saya ikuti. Tiket masuk ke Teknik Informatika UII, D3 Akuntansi STAN, dan Teknik Elektro STT Telkom sudah saya raih. Terdapat suatu kebingungan pada saat itu untuk memilih dimana saya akan melanjutkan proses belajar. Pilihan akhirnya meruncing pada STAN dan STT Telkom, walaupun saya sudah resmi menjadi mahasiswa UII karena saya telah melakukan proses daftar ulang pada kampus tersebut.

Akhirnya pilihan saya berlabuh pada S1 Teknik Elektro STT Telkom walaupun saya sangat mengidamkan untuk masuk ke pilihan pertama saya ketika mengisi formulir pendaftaran, yaitu S1 Teknik Informatika.

Perjalanan yang naik turun telah saya lalui selama 6 tahun saya kuliah disini. Tahap Persiapan Bersama yang memang menjadi salah satu killing field bagi mahasiswa yang kuliah disini juga saya lewati dengan tidak mudah. Ujian khusus harus saya tempuh agar bisa memenuhi persyaratan untuk bisa melanjutkan kuliah. Tahun demi tahun berlalu dan sampailah saya pada saat ini dengan masih mempunyai tanggungan sekitar 30an SKS yang harus saya ambil dalam 2 semester ke depan, termasuk Tugas Akhir.

Untuk setahun kedepan, mungkin saya tidak akan berkonsentrasi pada hal hal di luar kegiatan akademis, walaupun ada beberapa amanah yang harus saya emban dan laksanakan. Amanah dari komunitas penggemar bis, BISMANIA COMMUNITY telah saya terima untuk menjadi koordinator di wilayah Bandung dan sekitarnya. Segera setelah saya dan teman - teman di wilayah ini berhasil merintis kembali keberadaan Bismania di wilayah Bandung, saya akan mengundurkan diri dan mempersilahkan anggota yang lain untuk menggantikan saya.

Masalah cinta, saya juga tidak akan terlalu memikirkan. Kalau bisa saya mendapatkan pasangan, akan saya syukuri, dengan catatan, dia tidak membebani saya. Ketika sudah mulai membebani dan tidak mendorong saya, maaf sebelumnya, harus saya tinggalkan. Pun bila tidak dapat pasangan, saya juga tidak terlampau memikirkan.

Saya saat ini hanya ingin memikirkan masalah kelulusan saya. Keluarga tercinta sudah lama menunggu keberhasilan saya untuk melewati salah satu fase kehidupan saya ini. Setiap saat saya teringat pertanyaan yang diajukan almarhum Bapak sekitar 2 minggu sebelum beliau meninggal. Kapan lulus le? Tahun Ngarep iso gak ? FYI, Bapak saya meninggal pada kuarter terakhir tahun 2005, dan itu berarti 3 tahun yang lalu.

Saya ingin lulus, dan saya yakin saya bisa dan mampu untuk itu. Untuk teman - teman yang saya sayangi, tolong dukung saya untuk ini. Saya sadar saya tidak bisa melakukan ini tanpa dorongan kalian. Tolong ingatkan saya apabila saya sedikit bergeser dari arah yang saya tuju ini.

SAYA BISA !!!